Wajib Syukur Dan Sabar

Kajian Bakda Shubuh, 15 Ramadhan 1447 H / Rabu, 4 Maret 2026 | Masjid Al-Mabrur Desa Meunasah Masjid, Kota Lhokseumawe
  • Penceramah: Tgk. Fakhrurrazi, SH
  • Dirangkum Oleh: Bang Eija
  • Kajian Bakda Shubuh, 15 Ramadhan 1447 H / Rabu, 4 Maret 2026 | Masjid Al-Mabrur Desa Meunasah Masjid, Kota Lhokseumawe

Dalam kehidupan seorang mukmin, ada dua sikap utama yang selalu berjalan beriringan: syukur dan sabar. Dua sikap ini menjadi fondasi dalam menghadapi berbagai keadaan hidup, baik ketika mendapatkan nikmat maupun ketika diuji dengan kesulitan.

Allah SWT menciptakan kehidupan ini dengan berbagai bentuk ujian. Ada saatnya manusia diberikan kelapangan, kesehatan, harta, dan kebahagiaan. Namun ada pula masa di mana manusia diuji dengan kesempitan, penyakit, dan berbagai cobaan.

Karena itulah seorang mukmin dituntut untuk selalu berada di antara dua sikap: bersyukur ketika diberi nikmat dan bersabar ketika ditimpa ujian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

⁠عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya, dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang beriman. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”

Riwayat:
•⁠ ⁠HR. Muslim no. 2999

Hadits ini menjelaskan bahwa hidup seorang mukmin tidak pernah sia-sia. Apapun yang terjadi dalam kehidupannya selalu bernilai kebaikan selama ia menjaga dua sikap ini: syukur dan sabar.

Dua Jenis Nikmat Allah

Para ulama menjelaskan bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada manusia secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Nikmat Ijas (إيجاز)
    Yaitu nikmat yang berupa kebaikan dan kenikmatan yang langsung dirasakan oleh manusia.

Contohnya seperti kesehatan, harta, keluarga, kedudukan, ilmu, dan berbagai kemudahan dalam hidup.

Nikmat seperti ini menuntut kita untuk bersyukur kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

⁠لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya:
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

  1. Nikmat Imdaq (إمداق)
    Yaitu nikmat yang datang dalam bentuk ujian atau kesulitan.

Sekilas tampak sebagai musibah, namun sebenarnya ia juga merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, karena melalui ujian tersebut Allah menghapus dosa, meninggikan derajat, dan mendekatkan hamba kepada-Nya.

Nikmat jenis ini menuntut seorang mukmin untuk bersabar.

Allah SWT berfirman:

⁠إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberikan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Kisah Abu Qilabah Rahimahullah

Salah satu kisah luar biasa tentang syukur dan sabar adalah kisah seorang ulama tabi’in bernama Abu Qilabah.

Beliau diuji dengan ujian yang sangat berat dalam hidupnya. Tubuhnya mengalami kelumpuhan, bahkan sebagian anggota tubuhnya tidak lagi berfungsi. Matanya pun mengalami kebutaan.

Namun dalam kondisi yang demikian, beliau tetap mengucapkan:

“Segala puji bagi Allah yang masih menyisakan padaku sesuatu yang bisa aku gunakan untuk mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya.”

Ketika orang-orang melihat keadaannya yang sangat sulit, mereka bertanya bagaimana beliau masih bisa bersyukur.

Abu Qilabah menjawab bahwa masih banyak nikmat Allah yang tersisa, seperti iman, akal, dan kemampuan untuk tetap mengingat Allah.

Kisah ini menunjukkan bahwa seorang mukmin sejati tidak hanya bersyukur ketika semuanya mudah, tetapi juga mampu bersyukur di tengah ujian.

Hikmah dari Pembahasan Diatas

Dari pembahasan ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting:

  1. Kehidupan selalu berputar antara nikmat dan ujian.
  2. Ketika mendapatkan nikmat → kewajibannya adalah bersyukur.
  3. Ketika mendapatkan ujian → kewajibannya adalah bersabar.
  4. Baik nikmat maupun ujian sama-sama dapat mendekatkan manusia kepada Allah jika disikapi dengan benar.

Karena itu seorang mukmin sejati tidak akan mudah putus asa dalam kesulitan, dan tidak pula lalai dalam kenikmatan.

Ia selalu menjaga dua sikap utama: syukur dan sabar.

Kesimpulan

Hidup seorang mukmin tidak pernah lepas dari dua keadaan: diberi nikmat atau diuji dengan kesulitan.

Ketika Allah memberi nikmat, maka kewajiban kita adalah bersyukur.
Ketika Allah memberikan ujian, maka kewajiban kita adalah bersabar.

Dengan dua sikap inilah seorang mukmin mampu menjalani hidup dengan penuh ketenangan, karena ia menyadari bahwa semua yang datang dari Allah pasti mengandung kebaikan.

Wallahu ta’aala a’lam.

Bagikan:

Tags

Related Post